Minggu, 09 September 2018

Psikologi Pendidikan



BAB I
PENDAHULUAN

Belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam setiap penyelenggaraan jenis dan jenjang pendidikan. Ini berarti bahwa berhasil atau gagalnya pencapaian tujuan pendidikan itu amat bergantung pada proses belajar yang diamali siswa, baik ketika ia berada di sekolah maupun lingkungan rumah atau keluarganya sendiri.
Oleh karenanya, pemahaman yang benar mengenai arti belajar dengan segala aspek, bentuk dan manifestasinya mutlak diperlukan oleh para pendidik khususnya para guru. Kekeliruan atau ketidaklengkapan persepsi mereka terhadap proses belajar dan hal-hal yang berkaitan dengan hal tersebut, mungkin akan mengakibatkan kurang bermutunya hasil pelajaran yang dicapai peserta didik.
Sebagian orang beranggapan bahwa belajar adalah semata-mata mengumpulkan atau menghafalkan fakta-fakta yang tersaji dalam bentuk informasi atau materi pelajaran. Orang yang beranggapan demikikian biasanya akan segara merasa bangga ketika anak-anaknya telah mampu menyebutkan kembali secara lisan sebagian informasi yang terdapat dalam buku teks atau yang diajarkan oleh guru.
Di samping itu, ada pula sebagian orang yang memandang belajar sebagai latihan belaka seperti yang tampak pada latihan membaca dan menulis. Berdasarkan persepsi ini, biasanya mereka akan merasa cukup puas bila anak-anak mereka telah mampu memperlihatkan keterampilan jasmaniah tertentu walaupun tanpa pengetahuan mengenal arti, hakikat dan tujuan keterampilan tersebut.


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Definisi Belajar
Beberapa ahli memberikan definisi belajar sebagai berikut:
a.       Hilgard dan Bower mengemukakan bahwa belajar berhubungan dengan perubahan tingkah laku seseorang terhadap suatu situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalamannya yang berulang-ulang dalam situasi itu.
b.      Gagne menyatakan bahwa belajar terjadi apabila sesuatu situasi stimulus bersama dengan isi ingatan mempengaruhi siswa sedemikian rupa sehingga perbuatannya berubah dari waktu sebelum ia mengalami situasi itu kewaktu sesudah ia mengalami situasi tadi.
c.       Morgan mengemukakan belajar adalah setiap perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman.
d.      Whitheringon mengemukakan belajar adalah suatu perubahan di dalam kepribadian yang menyatakan diri sebagai pola baru dari reaksi yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, dan kepandaian.[1]
Dari beberapa definisi di atas, dapat dikemukakan elemen-elemen penting yang memberikan ciri tentang belajar, yaitu:
1.      Belajar merupakan perubahan tingkah laku.
2.      Belajar merupakan suatu perubahan yang terjadi melalui latihan atau pengalaman,
3.      Perubahan itu harus relatif mantap.
4.      Perubahan itu menyangkut berbagai aspek kepribadian.

Pendapat yang berbeda dikemukakan oleh Jhon B.Biggs bahwa pengamalan hidup sehari-hari dalam bentuk apapun sangat memungkinkan untuk diartikan sebagai belajar.
Dengan demikian, belajar adalah tahapan perubahan seluruh tingkah laku individu yang relatif menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif.
 Dengan pengertian di atas, adapun akibat proses kematangan, keadaan gila, mabuk, lelah, dan jenuh tidak dapat dipandang sebagai proses belajar.
Manfaat mempelajari prinsip-prinsip belajar bagi seorang pekerja sosial maupun mereka yang bergerak di bidang kesejahteraan sosial adalah adanya perluasan wawasan untuk mengubah perilaku seseorang. Pengetahuan ini diperlukan karena dalam penerapan ilmu pekerjaan sosial dan ilmu kesejahteraan sosial, isu mengenai begaimana mengubah perilaku seseorang menjadi salah satu isu sentral, ketika akan melakukan usaha intervensi secara mikro.
Secara umum dikenal tiga prinsip belajar yang utama, yaitu:
1.      Classical Conditioning
Classical Conditioning merupakan suatu proses belajar melalui pembiasaan (conditioning) terhadap suatu objek dengan menitikberatkan pada proses pemberian rangsang (stimulus) guna mendapatkan suatu respon tertentu, tanpa menggunakan penguat (reinforcement). Classical conditioning, menurut Morgan juga sering disebut dengan respondent conditioning atau Pavlovian conditioning.
2.      Instrumental (Operant) Conditioning
Instrumental conditioning tidak sekedar menyandarkan diri pada stimulus-response saja, tetapi disini juga diperkenalkan fungsi penguat (reinforce) yang banyak memainkan peranan dalam kehidupan. Proses pembiasaan ini disebut dengan instrumental karena tindakan learner (individu ataupun objek yang belajar) merupakan instrumen untuk perubahan yang terjadi pada lingkungannya, dan bila hasilnya menyenangkan maka learner selanjutnya akan memunculkan kembali tindakan tersebut disaat yang lain. Instrumental Conditioning ini juga dikenal sebagai operant conditioning, yang dikemukakan oleh BF Skinner, hal ini dikarenakan adanya kemampuan learner untuk mengubah atau mengoperasikan lingkungan yang dapat memunculkan kembali tindakan tersebut bila perubahan yang terjadi membawa hasil yang menyenangkan.
Dalam Instrumental conditioning dikenal adanya positive dan negative reinforce (reinforcement). Positive reinforce adalah stimulus ataupun kejadian (event) yang jika ia diberikan maka akan semakin besar kemungkinan learner memunculkan, mempertahankan, atau meningkatkan respons itu kembali.
Sedangkan negative reinforce adalah stimulus atau kejadian, apabila dikurangi/dihilangkan maka akan semakin besar kemungkinan learner memunculkan, mempertahankan, dan meningkatkan respon yang diharapkan.
Konsep lain adalah pemberian hukuman (punishment). Hukuman (punishment) adalah suatu stimulus atau kejadian apabila stimulus tersebut diberikan maka akan terjadi pengurangan kemungkinan respons itu muncul kembali.
Selain itu, Ommision of Reinforcement (setara dengan ekstinksi) yang bertujuan untuk mengurangi tingkah laku yang tidak diinginkan
3.      Cognitive Learning
Cognitive learning adalah perubahan cara memproses informasi sebagai hasil pengalaman ataupun latihan. Berdasarkan pengalaman, subjek menyaring informasi yang bermakna, mengolah, dan menyimpannya sehingga membentuk asosiasi (hubungan) yang baru dan disimpan ke dalam ingatan. [2]
Prinsip-prinsip belajar di bidang pendidikan
a.       Belajar harus bertujuan dan terarah. Tujuan akan menuntutnya dalam belajar untuk mencapai harapan-harapan.
b.      Belajar memerlukan bimbingan, baik bimbingan guru ataupun buku pelajaran itu sendiri
c.       Belajar memerlukan pemahaman atas hal-hal yang dipelajari sehingga diperoleh pengertian-pengertian.
d.      Belajar memerlukan latihan dan ulangan agar apa yang telah dipelajari dapat dikuasai
e.       Belajar adalah suatu proses aktif dimana terjadi saling pengaruh secara dinamis antara murid dengan lingkungannya.
f.       Belajar harus disertai keinginan dan kemauan yang kuat untuk mencapai tujuan.
g.      Belajar dapat dianggap berhasil apabila telah sanggup menerapkan ke dalam praktek sehari-hari[3]










B.     Teori-teori Tentang Proses Belajar
1.      Teori Belajar menurut Faculty-psychology (Ilmu Jiwa Daya)
Menurut teori ini, jiwa terdiri dari berbagai daya seperti daya berfikir, mengenal, mengingat, mengamat dan lain-lain. Daya-daya ini dapat berkembang dan berfungsi apabila dilatih dengan bahan-bahan dan cara-cara tertentu. Berdasarkan pandangan ini, maka yang dimaksud dengan belajar ialah usaha melatih daya-daya itu agar berkembang sehingga kita dapat berpikir, mengingat, dan sebagainya. Cara yang digunakan ialah dengan menghapal, memecahkan soal-soal dan berbagai jenis kegiatan lainnya.
2.      Teori Belajar menurut Ilmu Jiwa Asosiasi
Menurut teori ini, jiwa manusia terdiri dari asosiasi dari berbagai tanggapan yang masuk kedalam jiwa kita. Asosiasi itu juga dapat terbentuk berkat adanya hubungan stimulus-response. Menurut pandangan ini, belajar berarti membentuk hubungan-hubungan stimulus response dan melatih hubungan itu agar bertalian erat.
3.      Teori Belajar menurut Ilmu Jiwa Gestalt (Organis)
Menurut teori ini, jiwa manusia merupakan satu keseluruhan yang bulat, bukan tanggapan-tanggapan. Jiwa manusia bersifat hidup dan aktif, berinteraksi dengan lingkungan. Karena itu belajar menurut teori ini berarti mengalami, berbuat, berpikir, secara kritis.
Beberapa asas belajar yang dikemukakan oleh teori ini adalah:
a.       Keseluruhan lebih dari jumlah bagian-bagian.
b.      Belajar adalah suatu proses perkembangan.
c.       Belajar adalah reorganisasi pengalaman.
d.      Belajar lebih berhasil apabila berhubungan dengan minat keinginan dan tujuan anak.
e.       Belajar adalah suatu proses yang berlangsung terus menerus.[4]

C.     Faktor-faktor yang Mempengaruhi Belajar
1.      Faktor internal (faktor dari dalam diri siswa), yakni keadaan/kondisi jasmani dan rohani siswa.
2.      Faktor eksternal (faktor dari luar siswa), yakni kondisi lingkungan di sekitar rumah siswa.
3.      Faktor pendekatan belajar (approach to learning), yakni jenis upaya belajar siswa yang meliputi strategi dan metode yang digunakan siswa untuk melakukan kegiatan  pembelajaran materi-materi pelajaran.
Faktor-faktor di atas dalam banyak hal sering saling berkaitan dan mempengaruhi satu sama lain. Seorang siswa yang bersikap conserving terhadap ilmu pengetahuan, biasanya cenderung mengambil pendekatan belajar yang sederhana dan tidak mendalam. Sebaliknya, seorang siswa yang berinteligensi tinggi dan mendapat dorongan positif dari orang tuangya akan memilih pendekatan belajar yang mementingkan kualitas hasil pembelajaran. Jadi karena pengaruh faktor-faktor diatas, muncullah siswa-siswa yang highachievers (berprestasi tinggi) dan under achievers (berprestasi rendah) atau gagal sama sekali.
1.      Faktor internal siswa
Ada dua aspek yang dapat dilihat dalam faktor internal yaitu aspek fisik, dan psikis. Aspek fisik adalah aspek yang bersifat jasmaniah. Dimana kondisi jasmani dan tonus (tegangan otot) menandai tingkat kebugaran organ-organ tubuh dan sendi-sendinya, dapat mempengaruhi semangat dan intensitas siwa dalam mengikuti pelajaran. Kondisi organ tubuh yang lemah dapt menurunkan kualitas ranah cipta (kognitif) sehingga materi yang dipelajari pun kurang atau tidak berbekas.
Sedangkan aspek psikis adalah kondisi rohaniah siswa dapat mempengaruhi kuantitas dan kualitas perolehan pembelajaran. Namun, di antara faktor-faktor rohaniah siswa yang pada umumnya dipandang lebih esensial adalah tingkat kecerdasan/inteligensi, sikap, bakat, minat, dan motivasi.
2.      Faktor Eksternal Siswa
Faktor eksternal yang mempengaruhi belajar siswa adalah lingkungan yang mencakup lingkungan sosial dan non sosial. Lingkungan sosial sekolah seperti guru, staf administrasi dan teman-teman sekelas, dapat mempengaruhi semangat belajar seorang siswa. Para guru yang selalu menunjukkan sikap dan prilaku yang simpatik dam memperhatikan suri teladan yang baik dan rajin khususnya dalam hal belajar, misalnya membaca dan berdiskusi dapat menjadi daya dorong yang positif bagi kegiatan belajar siswa.
Dan yang termasuk dalam lingkungan sosial adalah masyarakat dan tetangga juga teman-teman sepermainan disekitar perkampungan siswa tersebut. Lingkungan sosial yang lebih banyak mempengaruhi kegiatan belajar siswa adalah orang tua dan anggota keluarga siswa tersebut. Sifat-sifat orang tua dan praktik-praktik yang dilakukan orang tua terhadap anaknya akan mempengaruhi tingkat belajar mereka.
Sedangkan Lingkungan nonsosial adalah gedung sekolah dan letaknya, rumah tempat tinggal, alat-alat belajar, keadaan cuaca dan waktu belajar yang digunakan siswa. Faktor-faktor ini dipandang turut menentukan tingkat keberhasilan belajar siswa.
3.      Faktor Pendekatan Belajar
Adapun yang termasuk dalam pendekatan belajar adalah:
a.       Reproduktif. Meliputi: menghafal, meniru, menjelaskan, meringkas
b.      Analitis. Meliputi: Berpikir kritis, mempertanyakan, menimbang, berargumen.
c.       Spekulatif. Meliputi: sengaja mencari kemungkinan dan penjelasan baru, berspekulasi dan membuat hipotesis.[5]

Faktor yang mempengaruhi proses belajar, yaitu:
1.      Waktu Istirahat, khususnya bila mempelajari bahan yang banyak, karena materi-materi yang dibaca sebenarnya perlu diendapkan. Oleh karena itu, dalam waktu istirahat sebaiknya tidak mengerjakan pekerjaan yang mengganggu pikiran.
2.      Pengetahuan tentang materi yang dipelajari secara menyeluruh. Dalam mempelajari sesuatu, lebih baik bila dipelajari materi secara keseluruhan terlebih dahulu, kemudian dipelajari masing-masing secara lebih saksama.
3.      Pengertian terhadap materi yang dipelajari. Bila seseorang pernah mengetahui materi dasar dari bahan yang dipelajari, maka orang tersebut akan lebih cepat memahami materi tersebut bila dibandingkan dengan orang baru yang belum pernah mengetahui materi dasar tersebut.
4.      Pengetahuan akan prestasi sendiri. Bila seseorang dapat mengetahui hasil prestasinya, maka akan lebih mudah baginya untuk memperbaiki kesalahan yang ada.[6]
5.      Lingkungan Sosial Budaya di luar sekolah ternyata sisi kehidupan yang mendatangkan problem sendiri bagi kehidupan anak didik di sekolah. Pembangunan gedung sekolah yang tak jauh dari hiruk pikuk lalu lintas menimbulkan kegaduhan suasana kelas.
6.      Kondisi psikologis (Keadaan Mental)
Kondisi psikologis seperti: minat, kecerdasan, bakat, motivasi, dan kemampuan-kemampuan kognitif adalah faktor-faktor psikologis yang utama mempengaruhi proses dan hasil belajar peserta didik.[7]


D.    Tipe-tipe Belajar
Dalam proses belajar, dikenal adanya bermacam-macam kegiatan yang memilki corak yang berbeda antara satu dengan lainnya. Baik dalam aspek materi dan metodenya maupun dalam aspek tujuan dan perubahan tingkah laku yang diharapkan. Keanekaragaman jenis belajar ini muncul dalam dunia pendidikan sejalan dengan kebutuhan kehidupan manusia yang juga bermacam-macam, yaitu:
1.      Belajar Abstrak.
Belajar abstrak adalah belajar yang menggunakan cara-cara berpikir abstrak. Tujuannya adalah untuk memperoleh pemahaman dan pemecahan masalah-masalah yang tidak nyata.
2.      Belajar Keterampilan
Belajar keterampilan adalah belajar dengan menggunakan gerakan-gerakan motorik yaitu yang berhubungan dengan urat-urat saraf dan otot-otot. Tujuannya adalah memperoleh dan menguasai keterampilan jasmaniah tertentu.
3.      Belajar Sosial
Belajar sosial adalah belajar memahami masalah-masalah dan teknik-teknik untuk memecahkan masalah tersebut. Tujuannya adalah untuk menguasai pemahaman dan kecakapan dalam memecahkan masalah-masalah sosial.
4.      Belajar Pemecahan Masalah
Belajar pemecahan masalah adalah belajar menggunakan metode-metode ilmiah atau berpikir secara sistematis, logis, teratur dan teliti. Tujuannya adalah untuk memperoleh kemampuan dan kecakapan kognitif dalam memecahkan masalah secara rasional, lugas, dan tuntas.
5.      Belajar Rasional
Belajar rasional adalah belajar dengan menggunakan kemampuan berpikir secara logis dan rasional. Tujuannya adalah memperoleh aneka ragam kecakapan menggunakan prinsip-prinsip dan konsep-konsep.
6.      Belajar kebiasaan
Belajar kebiasaan adalah proses pembentukan kebiasaan-kebiasaan baru atau perbaikan kebiasaan-kebiasaan yang telah ada. Tujuannya adalah untuk memperoleh sikap-sikap dan kebiasaan-kebiasaan perbuatan baru yang lebih tepat dan positif dalam arti selaras dengan kebutuhan luang waktu (kontekstual)
7.      Belajar Apresiasi
Belajar apresiasi adalah belajar mempertimbangkan arti penting atau nilai suatu objek. Tujuannya adalah agar siswa memperoleh dan mengembangkan kecakapan ranah rasa.
8.      Belajar Pengetahuan
Belajar pengetahuan adalah belajar dengan cara melakukan penyelidikan mendalam terhadap objek pengetahuan tertentu. Tujuannya adalah untuk memperoleh atau menambah informasi dan pemahaman terhadap pengetahuan tertentu yang biasanya rumit dan memerlukan kiat khusus dalam mempelajarinya.[8]









BAB III
PENUTUP

a.       Kesimpulan
Belajar adalah perubahan tingkah laku perubahan yang terjadi melalui latihan atau pengalaman, yang bersifat relatif menetap yang menyangkut aspek kepribadian.
Dengan mempelajari prinsip-prinsip belajar, kita dapat mengatur hidup kita sehingga hidup kita terarah, terbimbing, tercapainya suatu tujuan.
Belajar memerlukan bimbingan dan arahan dari guru atau buku pelajaran itu sendiri.
Belajar juga harus disertai dengan kemauan dan keinginan yang kuat agar kita dapat mencapai tujuan kita tersebut
b.      Saran
Setelah kita mengetahui prinsip-prinsip belajar di bidang pendidikan, saran penulis adalah lebih baik prinsip-prinsip tersebut diaplikasikan di kehidupan sehari-hari, sehingga hidup dan tata cara belajar si pelajar teratur.
Setelah kita mempelajari makalah ini, kami sarankan kepada pembaca untuk lebih berpikir kritis lagi sebagai mahasiswa.







Daftar Pustaka
Winansih, Vania. 2009. Psikologi Pendidikan. Medan:PT. La Tansa Press Medan
Adi, Isbandi Rukminto. 1994. Psikologi,Pekerjaan Sosial dan Ilmu Kesejahteraan Sosial:Dasar-dasar pemikiran. Jakarta:PT.Raja Grafindo Persada
Ahmadi, Abu. 1999. Psikologi Sosial (Edisi Revisi). Jakarta:PT. Rineka Cipta
Khodijah, Nyanyu. 2014. Psikologi Pendidikan. Jakarta:PT. RajaGrafindo Persada


[1] Varia Winansih, Psikologi Pendidikan, La Tansa Press, Medan, 2009, h.18
[2] Isbandi Rukminto Adi, Psikologi, Pekerjaan Sosial dan Ilmu Kesejahteraan Sosial:Dasar-dasar pemikiran, PT.Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1994, h.88-89
[3] Abu Ahmadi, Psikologi Sosial (Edisi Revisi), PT. Rineka Cipta, Jakarta, 1999, h.282
[4] Ibid, h.281-282
[5] Varia Winansih, Psikologi Pendidikan, La Tansa Press, Medan, 2009, h.20-22
[6] Isbandi Rukminto Adi, Psikologi, Pekerjaan Sosial dan Ilmu Kesejahteraan Sosial:Dasar-dasar pemikiran, PT.Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1994,h.94-95
[8] Dr. Nyayu Khodijah, Psikologi Pendidikan, PT. RajaGrafindo Persada, Jakarta, h.53-55